again and again, every single second of his sceme
Rabu, 15 Februari 2012
Rabu, 08 Februari 2012
Come On !
Bina Antarbudaya kembali mencari siswa-siswa yang punya mimpi dan semangat tinggi untuk mengikuti student exchange program ke berbagai negara di seluruh belahan dunia .
Terbuka untuk siswa kelas X dan atau sederajat .
Prepare yourself, guys :)
Selasa, 07 Februari 2012
Talking To The Moon
Halo bulan
malam ini kau sombong sekali menebarkan pesonamu ke seantero jagad raya.
kau tau tidak, bahkan bintang - bintang di sekitarmu pun menyingkir, takut sinarnya kalah oleh pendar auramu.
tapi aku kembali datang, lagi lagi untuk bicara padamu.
Kamu bekerja layaknya penghapus jarak antara aku dengan seseorang ketika jarak ratusan kilometer memisahkan kami. Aku suka naik ke lantai teratas rumah kos, hanya untuk memandang kemegahanmu, mengagumi penciptamu, menyayangi ciptaan penciptamu. Meski hanya beralaskan sendal jepit, meski angin malam meniupkan beku ke tengkuk yang menggetarkan tulang rusuk. Kegiatan ini masih menjadi kesukaanku sampai detik ini, kalau saja kesibukan tidak terlalu melumpuhkanku . Karena yang aku tahu, bulan yang ada di langit di atas kotanya, pasti juga bulan yang aku lihat dari kotaku.
Kalau boleh aku mengutip perkataan seorang sahabat, kau itu mampu membuatku merasa dekat dengan setiap tempat di muka bumi ini, sejauh apapun itu.
Awalnya aku tidak benar-benar setuju. Tadinya aku berpikir bahwa akan ada masanya saat aku baru bisa melihatmu, belahan bumi yang paling aku rindukan justru melihat mentari terbit menggantikan keberadaanmu. Tapi temanku itu bilang, bahwa kalau saja aku perhatikan, kau tetap menggantung disana pada awal pagi, ketika mentari baru memunculkan mahkotanya. Pada detik itulah, bahkan jarak sejauh setengah keliling bumi, terasa dekat.
Hai, bulan..
bagaimana sih rasanya menggantung di atas sana? melihat segala hiruk pikuk kehidupan kota yang tidak pernah mati, menaungi desa yang tertidur, menyenangkan ya? menemani seseorang dalam isak tangisnya, atau tersenyum memandang mereka yang berbahagia, dan mengantar mereka tertidur bergelung di bawah selimutnya yang hangat.
Jika aku sedang duduk menatapmu seperti ini, perasaanku bisa menjadi sangat melankolis. Kau tahu tidak? Ini yang orang lain bilang galau, tapi peduli apa aku. Menurutku, ini justru momen supaya aku mampu mengalirkan segala energi yang aku miliki, emosi yang menyeruak, memori-memori yang menyelesak, dan scene-scene hidup yang mencuat. Aku perlu waktu untuk bisa mengistirahatkan sejenak tubuhku ketika otak ini terlalu lelah bekerja dalam logika dan angka, ketika jemari sudah kebas menulis laporan praktikum, ketika semua orang di dunia ini rasanya tidak lebih dari sekumpulan kuman yang menginfeksi . Aku perlu waktu untuk aku dan diriku .Hanya kamu dan aku.
Aku tidak pernah datang kepadamu dengan perasaan yang persis sama. Tapi kamu selalu sedia menerima induksi perasaanku, sebahagia apapun, segamang apapun, dan separah apapun itu. Dan saat aku bicara padamu tanpa kata, sejujurnya aku sedang bicara pada penciptamu yang telah memberikan hidup yang sangat spektakuler.
Bulan..
Sekarang tanggal tujuh, tanggal istimewa yang biasa aku rayakan bersama seseorang. Ya, dia yang dari dulu aku ceritakan padamu itu. Maaf ya..tapi kamu tidak bosan kan? Kalau kamu bosan pun aku tidak peduli, kamu tidak bisa pergi sampai pagi nanti, bukan? Hehehe, aku licik, ya?
Aku pernah memandangmu bersamanya pada suatu malam, sambil juga memandangi bintang - bintang artifisial yang terserak di bawah bukit itu. Sambil mencoba coba bereksperiment menangkap cahaya. Kamu menyaksikan kami, saat itu. Namun detik ini, lautan dan daratan mencipta angka ribuan mil antara aku dengan dirinya . Memandangmu membuat aku berpikir bahwa jarak tidak lebih dari sekedar deretan angka dan satuan. Pasti kamu bulan yang sama yang dia lihat dari tanah tempatnya memijak. Tentu saja, karena bumi hanya mempunyai satu bulan, dan itu kamu.
Ah, tapi palingan dia tidak lihat bulan. Hahaha.
Bulan, bagaimana rasanya memerhatikan dia dari atas sana? Melihat senyumnya yang merekah dan tawanya yang lepas, atau kerut keningnya bahkan raut bingungnya. Menyenangkan sekali, kapan-kapan kita bertukar tempat yuk.
Yayaya...aku tahu kamu tidak mau.
malam ini kau sombong sekali menebarkan pesonamu ke seantero jagad raya.
kau tau tidak, bahkan bintang - bintang di sekitarmu pun menyingkir, takut sinarnya kalah oleh pendar auramu.
tapi aku kembali datang, lagi lagi untuk bicara padamu.
Kamu bekerja layaknya penghapus jarak antara aku dengan seseorang ketika jarak ratusan kilometer memisahkan kami. Aku suka naik ke lantai teratas rumah kos, hanya untuk memandang kemegahanmu, mengagumi penciptamu, menyayangi ciptaan penciptamu. Meski hanya beralaskan sendal jepit, meski angin malam meniupkan beku ke tengkuk yang menggetarkan tulang rusuk. Kegiatan ini masih menjadi kesukaanku sampai detik ini, kalau saja kesibukan tidak terlalu melumpuhkanku . Karena yang aku tahu, bulan yang ada di langit di atas kotanya, pasti juga bulan yang aku lihat dari kotaku.
Kalau boleh aku mengutip perkataan seorang sahabat, kau itu mampu membuatku merasa dekat dengan setiap tempat di muka bumi ini, sejauh apapun itu.
Awalnya aku tidak benar-benar setuju. Tadinya aku berpikir bahwa akan ada masanya saat aku baru bisa melihatmu, belahan bumi yang paling aku rindukan justru melihat mentari terbit menggantikan keberadaanmu. Tapi temanku itu bilang, bahwa kalau saja aku perhatikan, kau tetap menggantung disana pada awal pagi, ketika mentari baru memunculkan mahkotanya. Pada detik itulah, bahkan jarak sejauh setengah keliling bumi, terasa dekat.
Hai, bulan..
bagaimana sih rasanya menggantung di atas sana? melihat segala hiruk pikuk kehidupan kota yang tidak pernah mati, menaungi desa yang tertidur, menyenangkan ya? menemani seseorang dalam isak tangisnya, atau tersenyum memandang mereka yang berbahagia, dan mengantar mereka tertidur bergelung di bawah selimutnya yang hangat.
Jika aku sedang duduk menatapmu seperti ini, perasaanku bisa menjadi sangat melankolis. Kau tahu tidak? Ini yang orang lain bilang galau, tapi peduli apa aku. Menurutku, ini justru momen supaya aku mampu mengalirkan segala energi yang aku miliki, emosi yang menyeruak, memori-memori yang menyelesak, dan scene-scene hidup yang mencuat. Aku perlu waktu untuk bisa mengistirahatkan sejenak tubuhku ketika otak ini terlalu lelah bekerja dalam logika dan angka, ketika jemari sudah kebas menulis laporan praktikum, ketika semua orang di dunia ini rasanya tidak lebih dari sekumpulan kuman yang menginfeksi . Aku perlu waktu untuk aku dan diriku .Hanya kamu dan aku.
Aku tidak pernah datang kepadamu dengan perasaan yang persis sama. Tapi kamu selalu sedia menerima induksi perasaanku, sebahagia apapun, segamang apapun, dan separah apapun itu. Dan saat aku bicara padamu tanpa kata, sejujurnya aku sedang bicara pada penciptamu yang telah memberikan hidup yang sangat spektakuler.
Bulan..
Sekarang tanggal tujuh, tanggal istimewa yang biasa aku rayakan bersama seseorang. Ya, dia yang dari dulu aku ceritakan padamu itu. Maaf ya..tapi kamu tidak bosan kan? Kalau kamu bosan pun aku tidak peduli, kamu tidak bisa pergi sampai pagi nanti, bukan? Hehehe, aku licik, ya?
Aku pernah memandangmu bersamanya pada suatu malam, sambil juga memandangi bintang - bintang artifisial yang terserak di bawah bukit itu. Sambil mencoba coba bereksperiment menangkap cahaya. Kamu menyaksikan kami, saat itu. Namun detik ini, lautan dan daratan mencipta angka ribuan mil antara aku dengan dirinya . Memandangmu membuat aku berpikir bahwa jarak tidak lebih dari sekedar deretan angka dan satuan. Pasti kamu bulan yang sama yang dia lihat dari tanah tempatnya memijak. Tentu saja, karena bumi hanya mempunyai satu bulan, dan itu kamu.
Ah, tapi palingan dia tidak lihat bulan. Hahaha.
Bulan, bagaimana rasanya memerhatikan dia dari atas sana? Melihat senyumnya yang merekah dan tawanya yang lepas, atau kerut keningnya bahkan raut bingungnya. Menyenangkan sekali, kapan-kapan kita bertukar tempat yuk.
Yayaya...aku tahu kamu tidak mau.
sekarang tanggal tujuh dan bulannya cantik banget.
mendukung buat nulis beginian.
Senin, 06 Februari 2012
Selasa, 31 Januari 2012
Mereka yang pergi tidak pernah benar-benar meninggalkanmu
Senja kemarin, seorang malaikat telah dipensiunkan oleh Tuhan. Tuhan bilang, tugasnya di bumi telah habis.
Malaikat itu bernama Bu Suryani, almarhumah.
Lagi-lagi dunia merasa kehilangan. Begitu pula keluarga kecil yang kau sebut akselerasi 2, anak - anaknya .
Entah berapa ton kesabaran yang Tuhan campurkan ketika menciptakan makhluk seperti beliau. Yang saya tahu hanyalah beliau memiliki kesabaran tanpa jeda menghadapi tingkah polah kami.
Saya masih ingat betapa beliau dengan kesabarannya tidak pernah meninggikan suara atau marah menghadapi kami yang memang benar-benar nakal. Hanya seutas senyum manis yang selalu menghiasi, meski kami benar-benar tahu bahwa ada setitik rasa jengkel dalam hatinya. Tuhan menjaganya penuh, betapa pun kami berulah, pada akhirnya rasa malu yang menghinggapi kami melihat kesabaran beliau.
Beliau adalah oasis di tengah kerontangnya jiwa yang haus ilmu. Segala ocehannya mengenai mitosis, meiosis, glikolisis, siklus kreb, voramen ovale, semuanya mencuat satu per satu mengiringi kepergiannya menuju keharibaan. Betapa dulu saya menjerit -jerit ingin segera mengakhiri kelas, namun kini jiwa saya menangis dan rela melakukan apapun demi kembali ke masa itu dan menikmati sisa waktu yang saya miliki bersamanya.
Beliau anak kunci rantai kesuksesan. Beliau tidak hanya menyuapi saya bekal untuk lulus UN dan masuk PTN favorit. Lebih dari apapun yang pernah dituntutkan kepada beliau sebagai seorang pengajar, beliau memberi saya bekal hidup, agar saya menjadi orang.
Terima kasih ibu, untuk semua kucuran ilmunya yang bahkan saya masih harus tergopoh menyongsongnya karena saking banyaknya, untuk selembar surat yang membawa saya ke dunia yang lebih luas, dan untuk setiap makna yang ibu sisipkan di sela pelajaran. Terima kasih Tuhan telah menghadirkan sosok malaikat dalam hidup saya.
Awalnya tidak ada satu kata pun yang mampu keluar dari lidah saya yang terasa kelu mendengar kabar duka ini. Yang saya benar-benar inginkan adalah saya ingin menemui beliau untuk terakhir kalinya. Saya sempat ragu karena saat itu hari sudah larut. Tapi kata-kata teman saya, Amri, menampar saya. "Inget Tik, wali kelas loh" akhirnya apalagi kalau bukan perasaan sayang, yang membawa langkah kaki saya ke rumah duka malam itu. Terima kasih Sri yang telah memberikan tumpangan.
Dan bendungan alamiah ini sudah tidak sanggup lagi menahan air mata yang mengalir deras dan melimpah ruah saat melihat jasadnya terbujur berbungkus kafan. Saya merasa bahu saya bergetar melihat beliau berlapis kain putih. Entah perasaan semacam apa. Tidak karuan.
Wajah teduh itu masih sama seperti yang saya lihat beberapa hari yang lalu. Rasanya masih seperti kemaren saya mencium tangannya dan beliau masih dengan sehat dan bugarnya berkata "Mbak Tika tambah cantik aja, gimana kuliahnya? sukses ya :)"
Wajah itu masih sama, hanya saja matanya tertutup untuk selamanya. Senyumnya tidak akan tersungging lagi. Bibirnya terkatup rapat. Rasanya saya ingin sekali saat saya memohon kepada Tuhan agar memberikan keajaiban. Berkali kali saya meneriakkan dalam hati supaya Ibu Suryani kembali berbicara dan menyapa saya dengan logat jawa nya yang kental. Saya rindu sapaan lembut ibu yang terasa seperti angin di siang hari yang terik. Tapi bibir itu tetap terkatup. Tuhan benar-benar telah mempensiunkan malaikat ini dari pekerjaan sucinya di dunia.
Tidak peduli malam sudah larut mendekati pergantian hari. Saya dan teman-teman saya tetap menunggu disana. Tidak selangkah pun saya beranjak selain ingin mengiringi beliau sampai memasuki mobil menuju perjalanannya ke Solo, menuju peristirahatanya yang tenang. Bu, semoga ilmu yang selama ini Ibu curahkan dengan tulus, menjadi penerangmu di sana,
Dan masing-masing dari kami pulang ke kediaman masing-masing, dengan berbagai perasaan yang berkecamuk, namun sama sama kehilangan.
Saya dulu pernah bertanya mengapa orang - orang yang saya sayangi pada akhirnya satu-persatu pergi meninggalkan. Tapi terjawab sederhana dengan sebungkus cokelat yang saya makan malam itu sepulangnya saya dari pelawatan. Saat itu saya tengah memainkan pembungkus cokelat menjadi lipatan - lipatan tak beraturan. Sampai saya menemukan tanggal yang tertera di sana.
Tanggal kadaluarsa.
Mungkin Tuhan memang telah menentukan tanggal kadaluarsa setiap individu yang Dia ciptakan. Ibu Suryani adalah sosok yang luar biasa baik hati dan disayangi Tuhan. Buktinya Tuhan begitu rindu pada beliau sehingga Dia ingin beliau segera kembali.
Bedanya, tanggal kadaluarsa manusia berbeda dengan cokelat. Masih dapat dirasakan keberadaannya meski telah lewat tanggal kadaluarsa. Dan rasanya tetap sama seperti dulu.
Kalau kata Dumbledore. Orang yang kita sayangi tidak pernah benar-benar pergi dari hidup kita. Mereka akan tetap hidup selama kamu masih hidup. Selama kita masih mampu menghadirkannya dalam ingatan dan hati kita. Mereka akan tetap hidup, melalui ragamu.
Semoga ilmu yang kau berikan tetap mengalir dari generasi ke generasi.
Sejuta doa untuk Ibu Suryani. Selamat jalan, semoga kau diberikan singgasana terindah di sisi-Nya
Dan tetaplah hidup di hati mereka yang menyayangimu....
ga kuat, pengen nangis lagi
Tika sayang Bu Sur..............
Malaikat itu bernama Bu Suryani, almarhumah.
Lagi-lagi dunia merasa kehilangan. Begitu pula keluarga kecil yang kau sebut akselerasi 2, anak - anaknya .
Entah berapa ton kesabaran yang Tuhan campurkan ketika menciptakan makhluk seperti beliau. Yang saya tahu hanyalah beliau memiliki kesabaran tanpa jeda menghadapi tingkah polah kami.
Saya masih ingat betapa beliau dengan kesabarannya tidak pernah meninggikan suara atau marah menghadapi kami yang memang benar-benar nakal. Hanya seutas senyum manis yang selalu menghiasi, meski kami benar-benar tahu bahwa ada setitik rasa jengkel dalam hatinya. Tuhan menjaganya penuh, betapa pun kami berulah, pada akhirnya rasa malu yang menghinggapi kami melihat kesabaran beliau.
Beliau adalah oasis di tengah kerontangnya jiwa yang haus ilmu. Segala ocehannya mengenai mitosis, meiosis, glikolisis, siklus kreb, voramen ovale, semuanya mencuat satu per satu mengiringi kepergiannya menuju keharibaan. Betapa dulu saya menjerit -jerit ingin segera mengakhiri kelas, namun kini jiwa saya menangis dan rela melakukan apapun demi kembali ke masa itu dan menikmati sisa waktu yang saya miliki bersamanya.
Beliau anak kunci rantai kesuksesan. Beliau tidak hanya menyuapi saya bekal untuk lulus UN dan masuk PTN favorit. Lebih dari apapun yang pernah dituntutkan kepada beliau sebagai seorang pengajar, beliau memberi saya bekal hidup, agar saya menjadi orang.
Terima kasih ibu, untuk semua kucuran ilmunya yang bahkan saya masih harus tergopoh menyongsongnya karena saking banyaknya, untuk selembar surat yang membawa saya ke dunia yang lebih luas, dan untuk setiap makna yang ibu sisipkan di sela pelajaran. Terima kasih Tuhan telah menghadirkan sosok malaikat dalam hidup saya.
Awalnya tidak ada satu kata pun yang mampu keluar dari lidah saya yang terasa kelu mendengar kabar duka ini. Yang saya benar-benar inginkan adalah saya ingin menemui beliau untuk terakhir kalinya. Saya sempat ragu karena saat itu hari sudah larut. Tapi kata-kata teman saya, Amri, menampar saya. "Inget Tik, wali kelas loh" akhirnya apalagi kalau bukan perasaan sayang, yang membawa langkah kaki saya ke rumah duka malam itu. Terima kasih Sri yang telah memberikan tumpangan.
Dan bendungan alamiah ini sudah tidak sanggup lagi menahan air mata yang mengalir deras dan melimpah ruah saat melihat jasadnya terbujur berbungkus kafan. Saya merasa bahu saya bergetar melihat beliau berlapis kain putih. Entah perasaan semacam apa. Tidak karuan.
Wajah teduh itu masih sama seperti yang saya lihat beberapa hari yang lalu. Rasanya masih seperti kemaren saya mencium tangannya dan beliau masih dengan sehat dan bugarnya berkata "Mbak Tika tambah cantik aja, gimana kuliahnya? sukses ya :)"
Wajah itu masih sama, hanya saja matanya tertutup untuk selamanya. Senyumnya tidak akan tersungging lagi. Bibirnya terkatup rapat. Rasanya saya ingin sekali saat saya memohon kepada Tuhan agar memberikan keajaiban. Berkali kali saya meneriakkan dalam hati supaya Ibu Suryani kembali berbicara dan menyapa saya dengan logat jawa nya yang kental. Saya rindu sapaan lembut ibu yang terasa seperti angin di siang hari yang terik. Tapi bibir itu tetap terkatup. Tuhan benar-benar telah mempensiunkan malaikat ini dari pekerjaan sucinya di dunia.
Tidak peduli malam sudah larut mendekati pergantian hari. Saya dan teman-teman saya tetap menunggu disana. Tidak selangkah pun saya beranjak selain ingin mengiringi beliau sampai memasuki mobil menuju perjalanannya ke Solo, menuju peristirahatanya yang tenang. Bu, semoga ilmu yang selama ini Ibu curahkan dengan tulus, menjadi penerangmu di sana,
Dan masing-masing dari kami pulang ke kediaman masing-masing, dengan berbagai perasaan yang berkecamuk, namun sama sama kehilangan.
Saya dulu pernah bertanya mengapa orang - orang yang saya sayangi pada akhirnya satu-persatu pergi meninggalkan. Tapi terjawab sederhana dengan sebungkus cokelat yang saya makan malam itu sepulangnya saya dari pelawatan. Saat itu saya tengah memainkan pembungkus cokelat menjadi lipatan - lipatan tak beraturan. Sampai saya menemukan tanggal yang tertera di sana.
Tanggal kadaluarsa.
Mungkin Tuhan memang telah menentukan tanggal kadaluarsa setiap individu yang Dia ciptakan. Ibu Suryani adalah sosok yang luar biasa baik hati dan disayangi Tuhan. Buktinya Tuhan begitu rindu pada beliau sehingga Dia ingin beliau segera kembali.
Bedanya, tanggal kadaluarsa manusia berbeda dengan cokelat. Masih dapat dirasakan keberadaannya meski telah lewat tanggal kadaluarsa. Dan rasanya tetap sama seperti dulu.
Kalau kata Dumbledore. Orang yang kita sayangi tidak pernah benar-benar pergi dari hidup kita. Mereka akan tetap hidup selama kamu masih hidup. Selama kita masih mampu menghadirkannya dalam ingatan dan hati kita. Mereka akan tetap hidup, melalui ragamu.
Semoga ilmu yang kau berikan tetap mengalir dari generasi ke generasi.
Sejuta doa untuk Ibu Suryani. Selamat jalan, semoga kau diberikan singgasana terindah di sisi-Nya
Dan tetaplah hidup di hati mereka yang menyayangimu....
![]() |
| Museum Geologi Bandung. Malaikat itu mengenakan jilbab merah muda :) |
| Hotel Yehezkied Bandung, Goes To Campus 2009. I wish you're still here with us |
ga kuat, pengen nangis lagi
Tika sayang Bu Sur..............
Minggu, 29 Januari 2012
Kutipan : Menunggu Layang - Layang
Namaku Christian, tapi Starla dengan seenaknya selalu memanggilku Che.Dan aku, seperti biasa, tidak pernah bisa melawan.
"Aku… memang segitu takutnya… segitu nggak percayanya... tapi, aku sekarat tanpa kamu' – Che.
Hubunganku dengan Starla ibarat ritual minum jamu pahit yang ditutup dengan segelas mungil air gula. Ketidak cocokan yang justru berujung pada persahabatan karib - Che
Kamu takut sama spontanitas. Kamu takut lepas kendali. Kamu ingin cinta, tapi takut jatuh cinta. But you know what? Kadang-kadang kamu harus terjun dan jadi basah untuk tahu air, Che. Bukan cuma nonton di pinggir dan berharap kecipratan - Starla
Aku ingin jadi layang-layang. Layang-layang itu bebas di langit. Tapi tetap ada benang yang mengikatnya di bumi.- Starla
Kamu benar. Ternyata kita sama, Che. Aku dan kamu sama-sama manusia kesepian. Bedanya, aku mencari. Kamu menunggu - Starla
"Aku… memang segitu takutnya… segitu nggak percayanya... tapi, aku sekarat tanpa kamu' – Che.
Sabtu, 28 Januari 2012
Better Love Story
JK Rowling told a better love story in one chapter than Stephanie Meyer did in 4 craps.
after all this time? always
mati
bagaimana kalau tubuh saya yang mati, adalah bagian tubuh saya yang paling saya cintai. yang dengannya saya mampu melangkahkan kaki dengan ringan,bahkan di medan paling terjal di dunia.
bagaimana kalau bagian tubuh yang mati itu, adalah kunci kehidupan bagi hidup saya, yang dengannya saya melebur. saya meleburkan diri dengannya dalam segala cacat raga namun sempurna jiwa. dan dalam leburannya, kami memiliki kekuatan melebihi siapapun di muka bumi, baik Hittler maupun Machiavelli.
bisa bisa saya ikut-ikutan mati.
kecuali namamu hermione, atau kau melakukan investigasi terhadap penulis. siapapun, berhentilah bersikap kau tau segalanya .
Sabtu, 21 Januari 2012
Jumat, 20 Januari 2012
Please STOP, SIAK-NG
Saya mohon, berhentilah. 4 mata kuliah yang masih empty, please remain empty. Saya belum pernah merasa sebahagia ini melihat ringkasan.
Kamis, 19 Januari 2012
It remains there.
Bagaimana kalau jiwa kecil itu tetap tumbuh, memperbanyak diri, dan memperkuat koloninya, setelah aku berusaha keras mencabiknya.
Bagaimana kalau ia selalu menemukan jalan untuk pulang ke rumahnya yang nyaman, setelah aku memusingkannya di persimpangan jalan.
Bagaimana kalau ia terlalu mulia dan suci, sehingga sebercak air kubangan pun tak mampu membuat bahkan setitik noda.
Bagaimana kalau ia tetap ada disana, semakin kuat, dalam segala upaya untuk mematikannya.
Maka ia akan selalu disana, berlari di depanku kemudian menghilang bak main petak umpat. Derap langkahnya terdengar di setiap sisi dan sudut relung memainkan nada beritme. Sebuah serenade memperolok aku yang mati-matian memporakpondakannya hingga bermandi keringat dan bersimbah darah.
Aku sekarat.
Dan tetap tidak mendapat hasil apa apa.
Minggu, 15 Januari 2012
Aku menulis...........
Tentang anugerah sempurna-Nya yang kau sebut hidup
Aku menulisnya karena aku seutuhnya menyadari kefanaan. Bahwa akan ada masanya ketika kakiku tidak lagi menginjak tanah dan semua sistem dalam tubuh ini tidak lagi berjalan, mati. Tak ada satu setan pun yang tahu berapa banyak lagi sisa detik yang tersisa untukku sebelum akhirnya aku pergi kecuali mereka mencuri berita dari langit. Tapi itu dilarang.
Maka selama di dunia ini ada pensil dan kertas, aku akan menulis sebagai bukti otentik bahwa aku pernah ada di dunia ini, bahwa aku pernah menjalani sebuah hidup. Hidup yang selalu luar biasa.
Dan kamu, pernah menjadi bagiannya.
Hai kamu, kamu pernah selalu hadir dalam beberapa chapter yang kutulis hampir setiap hari. Lucu, radarku ini memang luar biasa hebat sehingga sanggup menemukanmu di antara milyaran manusia di bumi. Munculnya tokoh kamu dalam cerita-yang-bahkan-belum-kuketahui-akhirnya ini meniupkan ruh pada setiap deretan huruf dan bait sehingga tulisanku lebih hidup. Hidupku lebih hidup.Terima kasih, kamu baik sekali.
Aku tidak pernah bisa berhenti menulis tentangmu, padahal omong omong, chaptermu itu sudah berakhir loh. Dan aku kesulitan menentukan jalan ceritanya dengan kamu yang selalu mondar mandiri dalam tempurung kepalaku ketika aku menulis. Soalnya chapter tentangmu sudah kuakhiri beberapa bulan yang lalu. Jadi hai kamu, aku minta maaf, karena aku tidak bisa terus menerus menulis tentangmu. Tapi aku janji, chaptermu tidak akan hilang. Cerita ini harus tetap berlanjut dan harus tetap luar biasa. Aku yakin cerita ini masih panjang dan akan menjadi sebuah masterpiece suatu hari nanti. Yang akan dikisahkan dari generasi ke generasi. Dan aku sedang tidak membuat biografi tentangmu. Ini tentangku. Mungkin kamu akan kembali kuhadirkan, tetapi tidak sampai aku menemukan momentum yang tepat. Kalau kamu ingin tetap aku menulis tentangmu, kamu akan kutuliskan dalam prosa yang lain, tapi bukan yang ini. Tidak apa-apa ya?
Ini adalah halaman perkamen yang baru, Di halaman sebelumnya, kau dan aku, kita, bersama sama telah menjelma menjadi sebuah deretan huruf dan bait paling keren sepanjang sejarah.
Kita memang keren, dari dulu memang begitu kan?
Aku menulisnya karena aku seutuhnya menyadari kefanaan. Bahwa akan ada masanya ketika kakiku tidak lagi menginjak tanah dan semua sistem dalam tubuh ini tidak lagi berjalan, mati. Tak ada satu setan pun yang tahu berapa banyak lagi sisa detik yang tersisa untukku sebelum akhirnya aku pergi kecuali mereka mencuri berita dari langit. Tapi itu dilarang.
Maka selama di dunia ini ada pensil dan kertas, aku akan menulis sebagai bukti otentik bahwa aku pernah ada di dunia ini, bahwa aku pernah menjalani sebuah hidup. Hidup yang selalu luar biasa.
Dan kamu, pernah menjadi bagiannya.
Hai kamu, kamu pernah selalu hadir dalam beberapa chapter yang kutulis hampir setiap hari. Lucu, radarku ini memang luar biasa hebat sehingga sanggup menemukanmu di antara milyaran manusia di bumi. Munculnya tokoh kamu dalam cerita-yang-bahkan-belum-kuketahui-akhirnya ini meniupkan ruh pada setiap deretan huruf dan bait sehingga tulisanku lebih hidup. Hidupku lebih hidup.Terima kasih, kamu baik sekali.
Aku tidak pernah bisa berhenti menulis tentangmu, padahal omong omong, chaptermu itu sudah berakhir loh. Dan aku kesulitan menentukan jalan ceritanya dengan kamu yang selalu mondar mandiri dalam tempurung kepalaku ketika aku menulis. Soalnya chapter tentangmu sudah kuakhiri beberapa bulan yang lalu. Jadi hai kamu, aku minta maaf, karena aku tidak bisa terus menerus menulis tentangmu. Tapi aku janji, chaptermu tidak akan hilang. Cerita ini harus tetap berlanjut dan harus tetap luar biasa. Aku yakin cerita ini masih panjang dan akan menjadi sebuah masterpiece suatu hari nanti. Yang akan dikisahkan dari generasi ke generasi. Dan aku sedang tidak membuat biografi tentangmu. Ini tentangku. Mungkin kamu akan kembali kuhadirkan, tetapi tidak sampai aku menemukan momentum yang tepat. Kalau kamu ingin tetap aku menulis tentangmu, kamu akan kutuliskan dalam prosa yang lain, tapi bukan yang ini. Tidak apa-apa ya?
Ini adalah halaman perkamen yang baru, Di halaman sebelumnya, kau dan aku, kita, bersama sama telah menjelma menjadi sebuah deretan huruf dan bait paling keren sepanjang sejarah.
Kita memang keren, dari dulu memang begitu kan?
Selasa, 10 Januari 2012
Cancer Kelahiran Mangsa Kaso
Saya pernah membaca sebuah buku Astrologi pemberian kaka saya ketika saya menginjak usia 12 tahun. Buku ini berjudul “Siapa Aku, Siapa Kamu : 23 JUNI”
Saya tidak berusaha mempercayai nasib apapun berdasarkan astrologi. Dan buku ini bukan mengajarkan hal–hal seperti kondisi keuangan kamu bulan ini lah, asmara mu lah, yang bilang kamu ga cocok kerja di air lah, dan bullshit2 pembodohan menggelikan lainnya.
Bukankah alasan Voldemort membunuh Harry dan menjadikannya musuh sejati yang pada akhirnya justru memusnahkannya adalah karena ia terlalu mempercayai ramalan sampah yang membawanya untuk melakukan hal bodoh yang malah menghancurkan dirinya sendiri? Alasan mengapa hal – hal buruk itu terjadi kepadamu, adalah karena kau terlalu mempercayainya. Jadi kalo ada ramalan bagus, ya percayai aja, siapa tau jadi kenyataan #salahkesimpulan
Kelebihan saya adalah kalo ngomong suka ngelantur kemana – mana.
Jadi, buku ini bercerita tentang tendensi karakter dan potensi diri, serta kecenderungan seseorang dalam menjalani hidup. In this case, the way you deal yourself.
Di buku ini dikatakan, bahwa saya merupakan Cancer yang terlahir dalam naungan mangsa Kaso. whatsoever, to the hell with the fuck it is. Saya masih 12 tahun saat itu.
Saya ingat buku itu pernah mengatakan bahwa saya memiliki tendensi untuk menimbun barang – barang, bahkan yang sudah usang dan tidak dipakai.
Saya akui, Saya memang memiliki kecenderungan untuk menimbun barang – barang. Dari anak durian kering pemberian kawan lama, sampai penghapus karet yang tidak lagi utuh, atau potongan gelang dan pembatas buku beraroma negeri bunga sakura. Juga beberapa baju lama yang sudah apak termakan usia, tempat pensil lama, serta mainan lama yang tidak pernah lagi di pakai.
Beberapa saya simpan di tempat penyimpanan paling baik di dunia dengan dalih saya terlalu cinta dan terlalu banyaknya cerita yang mereka simpan. Beberapa hanya terlupakan dan terabaikan hingga membusuk dimakan waktu.
Yang pertama, (mungkin) adalah alasan mengapa saya tidak juga membuangmu dari hidup saya.
Saya tidak berusaha mempercayai nasib apapun berdasarkan astrologi. Dan buku ini bukan mengajarkan hal–hal seperti kondisi keuangan kamu bulan ini lah, asmara mu lah, yang bilang kamu ga cocok kerja di air lah, dan bullshit2 pembodohan menggelikan lainnya.
Bukankah alasan Voldemort membunuh Harry dan menjadikannya musuh sejati yang pada akhirnya justru memusnahkannya adalah karena ia terlalu mempercayai ramalan sampah yang membawanya untuk melakukan hal bodoh yang malah menghancurkan dirinya sendiri? Alasan mengapa hal – hal buruk itu terjadi kepadamu, adalah karena kau terlalu mempercayainya. Jadi kalo ada ramalan bagus, ya percayai aja, siapa tau jadi kenyataan #salahkesimpulan
Kelebihan saya adalah kalo ngomong suka ngelantur kemana – mana.
Jadi, buku ini bercerita tentang tendensi karakter dan potensi diri, serta kecenderungan seseorang dalam menjalani hidup. In this case, the way you deal yourself.
Di buku ini dikatakan, bahwa saya merupakan Cancer yang terlahir dalam naungan mangsa Kaso. whatsoever, to the hell with the fuck it is. Saya masih 12 tahun saat itu.
Saya ingat buku itu pernah mengatakan bahwa saya memiliki tendensi untuk menimbun barang – barang, bahkan yang sudah usang dan tidak dipakai.
Saya akui, Saya memang memiliki kecenderungan untuk menimbun barang – barang. Dari anak durian kering pemberian kawan lama, sampai penghapus karet yang tidak lagi utuh, atau potongan gelang dan pembatas buku beraroma negeri bunga sakura. Juga beberapa baju lama yang sudah apak termakan usia, tempat pensil lama, serta mainan lama yang tidak pernah lagi di pakai.
Beberapa saya simpan di tempat penyimpanan paling baik di dunia dengan dalih saya terlalu cinta dan terlalu banyaknya cerita yang mereka simpan. Beberapa hanya terlupakan dan terabaikan hingga membusuk dimakan waktu.
Yang pertama, (mungkin) adalah alasan mengapa saya tidak juga membuangmu dari hidup saya.
Senin, 09 Januari 2012
Sabtu, 07 Januari 2012
Warning Sign
Come on in, I've got to tell you what a state I'm in. I've got to tell you in my loudest tones.
That I started looking for a warning sign
When the truth is I miss you Yeah the truth is that I miss you so
-Coldplay-
Rabu, 04 Januari 2012
Antiklimaks
Saya menulis kalimat ini pada suatu senja, di sela gemuruh hujan yang menghantam atap tempat saya berlindung. Kehadirannya membuat segalanya terasa berbeda dengan senja-senja yang pernah saya lewatisebelumnya.
Hujan membawa dingin yang menyusup melewati setiap inchi pori pori genting dan tembok, manyelinap masuk melalui celah bawah pintu dan lubang lubang ventilasi yang terbuka, menjalari ubin hingga sampai pada tengkuk mu dan kemudian menghempas.
Merinding.
Selasa, 03 Januari 2012
Sabtu, 31 Desember 2011
Good Bye, MMXI :)
Get to know so many new people, which is a bliss, heart breaks, all the lessons I got within... 2011 has managed to be a very good teacher.
( @putrierdisa )
Surat yang Tak Pernah Sampai (sekarang tersampaikan)
Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya
ingin berbicara pada dirimu sendiri. Kamu ingin berdiskusi dengan angin,
dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamun beli dari tukang
bunga yang berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan,
dengan malam, dengan detik jam.. tentang dia.
Dia yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta.
Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya- dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda benda yang ia hanguskan-bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila-berterbangan masuk ke matanya. Semoga Ia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.
Tapi, sebelah darimu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengamini kalian, untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan cinta. Kemudian mendamparkan dirlah kalian di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan dan ketabahan hati. Betapa sebelah darimu percaya bahwa setetes airmata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti akan bermuara di satu samudera tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala..dan itulah tujuan kalian.
……………………
kalau saja hidup tidak berevolusi,
kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu,
kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik. maka tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. cukup satu.
satu detik yang segenap keberadaannya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya.
betapa kamu rela membatu untuk itu.
Tapi hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar.
Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. kamu, tidak terkecuali.
Kamu takut karena ingin jujur.
Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.
Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi kamu cemas. Kata 'sejarah' mulai menggantung hati-hati di atas sana. Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali.
Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.
Skenario perjalanan kalian mengharuskanmu untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai Sang Kekasih Impian, Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan kedunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing tanpa ada usaha saling mencocokan. Sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama cinta dan perjuangan yang Tidak Boleh Sia-Sia. Kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.
Lama baru kamu menyadari bahwa Pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.
Lama bagi kamu untuk berani menoleh kebelakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama?
Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinnya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.
Cinta butuh dipelihara. Bahwa di dalam sepak terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.
Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkananmu---entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan... karena cinta adalah mengalami.
Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan.
Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi.
Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan cuma maskot untuk disembah sujud.
Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.
Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini.
Hingga akhirnya..
Di meja itu, kamu dikelilingin tulisan tangannya yang tersisa (kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga cuma kamulah yang tersiksa?)
Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.
Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya.
Dan kamu hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena habis daya.
Sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia akan paham, atau setidaknya setengah memahami, berapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.Tiak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memanhg sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata 'jangan' yang mungkin apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.
Kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.
Ketika surat itu tiba di titiknya yang terakhir, masih akan ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari dirmu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu. Dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pegi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah. Dan karena waktu semakin larut, tenagamu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya.
Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak-teriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas, Bintang Selatan... yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya menemuiku.
Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan . Yang mendamba mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.
Dewi Lestari.2006. Filosofi Kopi."Surat yang tak pernah sampai"
Dia yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta.
Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya- dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda benda yang ia hanguskan-bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila-berterbangan masuk ke matanya. Semoga Ia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.
Tapi, sebelah darimu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengamini kalian, untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan cinta. Kemudian mendamparkan dirlah kalian di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan dan ketabahan hati. Betapa sebelah darimu percaya bahwa setetes airmata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti akan bermuara di satu samudera tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala..dan itulah tujuan kalian.
……………………
kalau saja hidup tidak berevolusi,
kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu,
kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik. maka tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. cukup satu.
satu detik yang segenap keberadaannya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya.
betapa kamu rela membatu untuk itu.
Tapi hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar.
Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. kamu, tidak terkecuali.
Kamu takut karena ingin jujur.
Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.
Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi kamu cemas. Kata 'sejarah' mulai menggantung hati-hati di atas sana. Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali.
Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.
Skenario perjalanan kalian mengharuskanmu untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai Sang Kekasih Impian, Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan kedunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing tanpa ada usaha saling mencocokan. Sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama cinta dan perjuangan yang Tidak Boleh Sia-Sia. Kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.
Lama baru kamu menyadari bahwa Pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.
Lama bagi kamu untuk berani menoleh kebelakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama?
Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinnya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.
Cinta butuh dipelihara. Bahwa di dalam sepak terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.
Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkananmu---entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan... karena cinta adalah mengalami.
Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan.
Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi.
Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan cuma maskot untuk disembah sujud.
Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.
Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini.
Hingga akhirnya..
Di meja itu, kamu dikelilingin tulisan tangannya yang tersisa (kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga cuma kamulah yang tersiksa?)
Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.
Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya.
Dan kamu hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena habis daya.
Sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia akan paham, atau setidaknya setengah memahami, berapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.Tiak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memanhg sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata 'jangan' yang mungkin apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.
Kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.
Ketika surat itu tiba di titiknya yang terakhir, masih akan ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari dirmu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu. Dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pegi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah. Dan karena waktu semakin larut, tenagamu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya.
Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak-teriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas, Bintang Selatan... yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya menemuiku.
Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan . Yang mendamba mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.
Dewi Lestari.2006. Filosofi Kopi."Surat yang tak pernah sampai"
Dee, kau benar - benar seorang yang jenius.
Mesin Waktuku
Mesin waktuku tidak berada di dalam laci meja belajarku.
Mesin waktuku tidak terbuat dari tulang tulang besi kuat yang meluncur cepat dalam kilatan cahaya dan berputar dalam labirin warna, membuat dunia serasa berputar dan membuat lidah kelu.
Mesin waktuku adalah beberapa tempat yang pernah kudatangi dengan kaki kecilku.
Mesin waktuku adalah aroma parfum serta lagu tertentu, juga beberapa barang tidak berguna layak buang, beberapa pemberian berharga, dan beberapa percakapan sederhana yang terlintas di mindaku.
Mesin waktuku tidak pernah benar-benar membawaku ke masa lalu.
Jelas, itu bukan mesin waktu.
Dwi Mustika Handayani, suatu senja di penutup tahun 2011
Bocah berbaju biru itu...
Tulisan kali ini akan menjadi sangat emosional. Bahkan saya
hampir menangis.
Ini kisah tentang anak laki – laki yang kurang beruntung.
Saat itu mentari sudah terbenam di ufuk barat, meninggalkan
semburat merah tipis pada langit yang mulai biru kegelapan. Sore itu, saya
melajukan motor saya melintasi lalu lintas yang sedikit semrawut di daerah
Beji, Depok. Sore itu, saya menggumam dan mengeluh terlalu banyak.
Saya memang terkadang bisa menjadi sangat melankolis.
Betapa saya sangat benci pada orang yang suka melontarkan
cacian kotor di jalanan. Betapa saya sangat benci melihat kesemrawutan lalu
lintas disana. Betapa saya sedih, sedih melihat negara ini yang mulai porak. Namun
saya tidak heran, bukankah negeri ini sudah dikuasai oleh orang – orang pongah
yang berotak seperti binatang yang hanya mengedepankan nafsu?
Kekesalan-kekesalan ini mengantarkan motor saya yang
terparkir manis di depan salah satu mesin penarik uang di pom bensin dekat
sana. Saya turun, masih dengan hati yang sangat kecut. Masih dengan muka yang
lelah. Masih dengan pakaian yang lusuh.
Dan seorang anak kecil, memandang tepat pada saya.
Saya malu terlihat dalam keadaan memalukan seperti itu,
akhirnya saya paksakan diri untuk tersenyum kepada adik tadi. Adik itu masih
memandang saya sambil sesekali memainkan tempat air mineral gelas yang sudah
kosong dengan jemarinya.
Senyumnya, manis. Hanya itu yang ada di pikiranku. Sebelum
akhirnya saya menyadari bahwa ada yg lain pada diri bocah lugu itu.
Bocah itu hanya mengenakan setelan kaos usang berwarna biru,
bertelanjang kaki menapak santai pada semen yang dingin. Anak kecil itu duduk
di belakang karung besar berwarna putih, yang hanya bisa saya terka apa isinya,
mungkin sampah – sampah bekas yang dapat didaur ulang, mungkin juga bukan.
Gelas air mineral bekas dimainkannya sambil sesekali ia menghirup ingusnya yang
mulai turun. Tapi anak itu tersenyum pada saya dengan senyumnya yang simpul.
Saya agak malu ketika berjalan melewati bocah itu. Saya
melangkahkan kaki saya perlahan, sambil sesekali melirik padanya. Lalu saya
segera membuka pintu masuk mesin penarik uang dan melakukan transaksi penarikan
tunai, mengingat uang di dompet saya mulai menipis. Agak lama saya di dalam
ruangan dingin itu, beruntung tidak ada yang mengantri di belakang saya. Sore
itu saya sangat lelah, terlalu lelah sampai tersenyum pun rasanya sulit.
Saya menghela napas panjang sebelum keluar dari ruangan ATM
tersebut.
Bocah kecil itu masih duduk disana dan masih memainkan
mainan ang sama, gelas air mineral bekas. Ia melirik kembali pada saya, sambil
memainkah bibirnya membentuk senyuman simpul yang sama. Lalu kemudian menunduk
dan kembali asik bermain.
Saya mendapati diri saya duduk di jok motor sambil
mengenakan helm, sambil sepasang mata saya mengamati anak kecil berbaju biru
tadi. Tiba – tiba saya teringat bahwa saya masih menyimpan sekerat roti di tas
saya yang tadi pagi ibu bekali pada
saya.
Sebentar, apa dia sudah makan hari ini?
Agak ragu – ragu, saya membuka resleting tas saya dan
mengambil roti yang saya maksud. Agak lama sampai saya kembali menutup tas
saya. Ada perasaan aneh dalam dada saya dan saya masih tidak mengerti apa. Saya
meremas remas bungkus roti itu sambil memandang bocah kecil yang dugaan saya
baru berusia 7 tahun.Secercah keberanian membuat tangan saya berhasil membuka
kaca helm dan bertanya..
“Dek, sudah makan belum?”
Bocah itu memandang saya dengan mata beningnya, namun tetap
terdiam. Sampai akhirnya saya harus kembali bertanya padanya..
“Dek, kaka ada roti, kamu mau?”
Dia masih terdiam. Nanar. Agak menyesal saya menawarinya
roti. Saya takut dia tersinggung.
Namun sedetik kemudian, dia mengangguk pelan. Segera saja
kupanggil sebelum ia berubah pikiran. Langkah kecilnya berlari ke arah saya dan
menerima roti tersebut, sambil berkata..
“Terima kasih ya, Teh”, katanya dengan senyum yang sangat manis dan binar mata yang bening.
Saya tersenyum simpul, dan dengan segera memutar motor dan
melaju cepat. Hal pertama yang ingin saya lakukan adalah segera pergi dari situ
sebelum saya tidak lagi kuat. Dan benar saya, sedetik kemudian saya merasa pipi
saya memanas, dengan air mata turun dengan derasnya dari pelupuk mata saya.
Sore itu, saya merasa ada dentingan lembut di sudut dalam
lobus temporalis saya. Entah denting apa. Satu hal yang saya tahu, denting itu
membawa damai, mengiringi derasnya air mata yang membasahi pipi saya.
Sore itu, saya bertemu malaikat kecil yang menampar jiwa saya yang sempat tertidur.
Sore itu, saya bertemu malaikat kecil yang menampar jiwa saya yang sempat tertidur.
Wahai siapapun yang kini duduk di tengah kemewahan dan
sedang memeras otak bagaimana memperluas kekuasaan dan menimbun kekayaan,
sadarlah...bahwa seorang bocah ingusan sedang memeras otak bagaimana ia makan hari
itu.
Bagi kalian, yang sedang membaca tulisan ini dan tidak
memiliki jalan pikiran yang sama dengan yang saya miliki, percayalah, kamu
tidak merasakan apa yang saya rasakan.
Perih.
Jumat, 30 Desember 2011
Langgan:
Entri (Atom)


















