Sabtu, 24 Maret 2012

Lelah ini lillah


orang yang ikhlas, tidak akan merasa lelah
karena lelahnya lillah..
- bu sekum ceria - 


bismillah, semoga lelah ini lillah, untukmu Ya Allah, strengthen me then :)

Jumat, 16 Maret 2012

Menjemput Mimpi

matahari sedang dalam perjalannya menuju belahan bumi yang saya diami ketika saya mengizinkan jemari saya menari di atas keyboard.
saya ingin tidur, hibernasi, dan saat bangun nanti, sudah musim semi 2013.

pernah terjatuh saat menggantungkan mimpi setinggi - tingginya di langit?
dulu saya pernah.
padahal saya sudah melakukan ancang-ancang. berlari beratus ratus kilometer sebelum melakukan manuver lompatan tertinggi sepanjang sejarah itu, saya siap menggantungkan mimpi saya di bulan.
tapi pada akhirnya saya selalu menemukan cacat dalam rencaca yang saya pikir sudah sempurnya. saya lupa . lupa bahwa di bawah lembabnya tanah, masih ada bebatuan . bahkan air yang lembut pun akan terasa menyakitkan kalau kamu menjatuhkan diri dari ketinggian.
saya bergantung pada harapan yang tinggi sampai tangan saya kram menopang massa tubuh saya .
meringis mencoba bertahan ketika turbulensi mulai datang .

bumi seperti kehabisan kolagen ketika badan saya menumbuknya. momentum yang tidak sebanding akhirnya meremukkan seluruh rangka tubuh saya hingga serpihan.

betapa saya berharap untuk dapat terlahir kembali .

saya tidak terlahir kembali, tapi saya terus tumbuh.
seorang malaikat pernah membisikkan pesan ketika sel-sel tubuh saya bekerja sedemikian rupa untuk beragregasi membentuk kembali sosok dwi mustika handayani.
"gantungkan mimpimu setinggi langit, namun pastikan kakimua tetap menapak di bumi"

agar tidak jatuh.
sehingga hari ini, meski saya kecewa karena lagi lagi gagal untuk menjemput mimpi saya, saya tidak terjerembab.

masih banyak petualangan besar lain yang ditawarkan hidup kepadamu.

Kamis, 01 Maret 2012

paradoks

harus segera diakhiri

bagaimanapun caranya.

hai seseorang yang sedang menunggu kapal laut di landasan udara...kamu percaya keajaiban? dulu kamu bilang, kapal laut tidak akan berlabuh di landasan udara. berkali kali kamu memutuskan untuk menyerah dan pergi dari landasan udara. bukan, kamu tidak meninggalkan landasan udara dan memutar kemudimu ke dermaga. kamu pulang. dengan setiap bongkah hati mu yang bahkan setiap selnya memiliki mau yang berbeda. kamu menyerah. kamu ingin meledak. kamu ingin pergi selamanya.
tapi separuh dari hati mu ingin masih menunggu hingga kapal laut itu akan datang, menawarkan perjalanan hidup yang spektakuler. meski kerasnya ombak di lautan sana, siapa yang bisa menerka.

sayangnya, kamu menyerah pada pak tua yang memainkan bandulnya.
sampai pada titik yang aku sebut spontanitas.

seandainya saja kamu berani mengakui kapal laut apa yang sedang kamu tunggu. seandainya saja ada secercah keberanian untuk kamu mengakui bahwa kamu gila untuknya. orang waras macam apa yang menunggu kapal di landasan udara. kamu tidak pernah tau, bahwa ada sejelumit koneksi mutual antara kamu dengan sang kapal.

kamu tidak tau kan, kapal itu telah memutar kemudinya untuk apa yang sudah tidak ada.