Saya menulis kalimat ini pada suatu senja, di sela gemuruh hujan yang menghantam atap tempat saya berlindung. Kehadirannya membuat segalanya terasa berbeda dengan senja-senja yang pernah saya lewatisebelumnya.
Hujan membawa dingin yang menyusup melewati setiap inchi pori pori genting dan tembok, manyelinap masuk melalui celah bawah pintu dan lubang lubang ventilasi yang terbuka, menjalari ubin hingga sampai pada tengkuk mu dan kemudian menghempas.
Merinding.
Rabu, 04 Januari 2012
Antiklimaks
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)








0 comments:
Poskan Komentar
cuap cuap here